Label

Jumat, 23 Maret 2012

Bantahan keuniversalan Al-kitab

Assalamu alaikum,,,,

BANTAHAN KEUNIVERSALAN ALKITAB 1: KITAB MATIUS Berbagai kitab dalam Perjanjian Baru mencatat tiga ungkapan yang diduga berasal dari Yesus. Masing-masing ungkapan tampaknya menunjukkan universalitas kerasulan Yesus dan para pengikutnya. Dalam uraian berikut, setelah penggambaran singkat mengenai suatu tempat yang dicantumkan pada ungkapan yang diduga berasal dari Yesus itu, masing-masing dari ketiga ayat ini dikutip kata-per-kata, dan ayat alkitabiah yang meragukan dikritisi. CONTOH PERTAMA. Ayat pertama yang harus dipertimbangkan berasal dari Injil Matius. Tempatnya di Galolee, sebelah utara Palestina. Waktunya beberapa hari setelah dugaan penyaliban dan kebangkitan- kembali Yesus,1 ketika sedikitnya sebelas orang murid2 melakukan perjalanan beberapa hari dan Yerusalem, tempat mereka merayakan Minggu Paskah, menuju Galilee. Kini sebelas orang murid itu pergi ke Galilee, menuju gunung tempat mereka dulu pernah dituntun ke sana oleh Yesus. Ketika mereka melihatnya, mereka menyembahnya; tetapi
sebagian ragu. Kemudian Yesus datang dan berkata kepada mereka, "Seluruh kekuasaan di langit dan di bumi telah diberikan kepadaku. Oleh karenanya, pergilan dan carilah murid- murid dari seluruh bangsa, dengan membaptis mereka atas nama Bapa, Putra, dan roh Kudus, serta mengajarkan kepada mereka untuk mentaati segala hal yang telah aku perintahkan
kepadamu. Dan ingatlah, aku selalu bersamamu, hingga akhir zaman".3 Kelihatannya, ayat di atas merupakan bukti yang sangat kuat bahwa Yesus menyatakan kerasulan universal. Akan tetapi, ada banyak kekurangan penting dan serius dalam ayat di atas. Sekarang, mari kita telaah kekurangan-kekurangan ini. Pertama dan terpenting harus diingat bahwa Matius menggambarkan pernyataan di atas dari mulut Yesus "yang dibangkitkan", bukan dari saat Yesus melaksanakan misi "kerasulan di dunia". Dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, penggunaan kosep Yesus "yang dibangkitkan" sering kali berupa sandi yang menunjukkan bahwa apa yang disebut "saksi" benar-benar telah mengalami satu "penampakan". Dalam hal ini, kita harus mempertimbangkan kasus "penampakan" Paulus (saul Tarsus) ketika ia melakukan perjalanan dari Yerusalem dan Damaskus, dengan maksud untuk menyiksa para pengikut awal Yesus.4 Jelasnya, sebuah "penampakan" - dengan otoritasnya sendiri - tidak bisa mengklaim jenis kepercayaan historis yang sama seperti kata yang diucapkan Yesus selama masa hidup dan penasbihannya. Seperti diketahui, keraguan yang nyata mengenai keakuratan sejarah pernyataan di atas menjadi sangat jelas. Kedua, ungkapan Yesus yang dilaporkan dan diduga merupakan perintah kepada murid-muridnya adalah satu rumusan pembaptisan liturgis dalam bentuk literer yang menunjukkan asal-muasalnya dalam gereja-gereja Kristen awal. Dengan penyuntingan dan paredaksian kemudian atas Matius, rumusan pembaptisan liturgis ini tampaknya telah dimodifikasi menjadi [berasal dari] kata-kata Yesus "yang dibangkitkan", karenanya, bentuk analisis kritis (Formgeschichte) atas ungkapan itu mengarah pada penisbahannya dengan gereja- gereja Kristen awal, yang sampai batas tertentu kemungkinan tidak lebih awal daripada abad ke-2 M. bahwa rumusan pembaptisan ini menunjuk pada waktu yang jauh lebih belakangan daripada Yesus bisa dilihat dengan adanya fakta bahwa para murid melanjutkan pembaptisan hanya atas nama Yesus, dengan menghindari setiap penyebutan trinitas dalam rumusan pembaptisan liturgisnya. Petrus berkata kepada mereka, "Bertobatlah, dan dibaptislah setiap orang dari kalian atas nama Yesus Kristus sehingga dosa-dosa kalian bisa diampuni; dan kalian akan menerima anugrah dari Roh Kudus.5 Ketiga, kritik teks menunjukkan bahwa ayat dari Matius di atas mendapatkan banyak sisian dan penambahan kemudian. Misalnya, dalam kutipan abad ke-4 M dari ayat di atas, Eusebius6 menyatakan sebagai "membaptis mereka atas namaku", alih-alih "membaptis mereka atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus".7 Karenanya, paling tidak hingga akhir abad ke-4 M, ayat Matius di atas masih mengalami proses penyuntingan dan penambahan oleh mereka yang ada di gereja-gereja Kristen! Fakta ini sendiri cukup untuk menilai bahwa kesejahteraan ayat Matius menjadi sama sekali tidak berarti. Keempat, jika Yesus benar-benar memerintahkan murid-muridnya untuk menyampaikan kerasulan ke "seluruh bangsa", catatan kesejarahan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa mereka sangat ragu-ragu untuk menaati perintah ini,
bahkan sering kali mengabaikannya sama sekali. Pembangkangan dan/ atau keraguan dalam menaati perintah yang diduga berasal dari Yesus "yang dibangkitkan" untuk menyampaikan pesan kepada "seluruh bangsa" ini dengan cepat dan mudah bisa diverifikasi dan dikuatkan oleh banyak ayat Perjanjian Baru, termasuk Kitab Perbuatan 11: 1-18, dimana Petrus dihukum oleh para anggota "gereja"8 Yerusalem awal hanya karena makan bersama orang-orang Kristen non-Yahudi. Bagaimana mungkin para sesepuh "gereja" Yerusalem ini bisa menentang Petrus untuk makan bersama orang-orang Kristen non-Yahudi jika Yesus benar- benar memberikan perintah untuk menyampaikan pesan kepada "seluruh bangsa"? Selain itu, Orang-orang Galatia 2: 1-9 mendokumentasikan kesulitan Paulus untuk meyakinkan "gereja" Yerusalem awal agar ia diizinkan menyampaikan pesan injil kepada orang-orang non Yahudi. Bagaimakah Paulus bisa menemui kesulitan semacam ini jika Yesus benar-benar memberikan tugas universal kepada murid-muridnya? Ingatlah, Paulus bukan dan tidak pernah menjadi murid Yesus, dan bahkan tidak pernah bertemu Yesus selama masa kehidupan Yesus di dunia. Lebih jauh, Kitab Perbuatan - yang pada dasarnya merupakan kitab propaganda, yang kokoh melaporkan sejarah gereja-gereja awal, tetapi memasukkan tradisi Paulus yang menyimpang dalam agama Kristen awal - bahkan lebih jauh mencatat bahwa murid-murid Yesus yang sebenarnya dengan tegas menolak Paulus sebagai seorang murid pengikutnya. Ketika ia telah sampai di Yerusalem, ia berusaha untuk bergabung dengan murid-murid itu; dan mereka semua takut kepadanya, karena mereka tidak percara bahwa ia adalah seorang murid.9 Sebagimana diketahui, argumen Paulus untuk menyampaikan pesan injil kep ada orang-orang non-Yahudi buikanlah tindakan seorang murid, dan tindakannya ini menuai banyak celaan dari "gereja" orisinal yang berada di Yerusalem.10 Satu contoh lainnya agaknya perlu dikutip secara lengkap di bawah ini : Kini mereka telah terpecah-belah karena penyiksaan yang terjadi atas Stefen yang telah menempuh perjalanan sejauh Phoenisia, Cyprus, dan Antiokia, dan mereka tidak mengatakan sepatah katapun kecuali kepada orang-orang Yahudi.11 Berkaitan dengan penugasan yang konon diberikan kepada murid- muridnya untuk "mengembara dan mengambil murid dari seluruh bangsa", kekurangan keempat ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa "tidak mungkin Yesus mengatakan hal ini ..."12 Jika dipertimbangkan bersama, empat kekurangan yang dicatat di atas memberikan bukti meyakinkan bahwa kata-kata yang dituturkan dalam Matius 28: 18-20 tidak bisa dikatakan berasal dari Yesus, jika setiap persamaan yang mengandung
keakuratan sejarah dipertahankan. Sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang teolog Kristen dan penafsiran Alkitab: "ayat-ayat ini kemungkinan lebih mencerminkan interpretasi gereja awal daripada kata-kata Yesus yang sebenarnya ..."13 Keterangan: 1. Lihat "Bantahan- bantahan penyaliban Yesus" pada menu. 2. Mungkin, 11 murid tersebut merujuk pada 12 orang murid dikurangi Yudas Iskariot. 3. Matius 28:16-20. 4. Perbuatan 9:1-9. 5. Perbuatan 2:38. 6. Eusebius Pamphili adalah seorang uskup Caesarea pada abad ke-4 Masehi. Dia adalah pengarang karya monumental Ecclesiastical History, Chronicle, dan pelbagai macam apologi serta komentar. -- (1998c) 7. Davies JN (1929b) 8. Para murid dan sesepuh tersebut berkumpul bersama di Yerusalem yang secara tradisional dirujuk sebagai gereja Yerusalem. Namun demikian, ia bukanlah sebuah "gereja". Mereka tetap melakukan kebaktian dan bersembahyang di kuil Yahudi, dan dengan jelas mempertahankan diri mereka sebagai bagian dari "negeri Israel". Mereka bukanlah sebuah agama baru, yaitu agama Kristen, tetapi mereka ada di antara orang-orang Yahudi yang telah kembali pada kepasrahan kepada Allah. (Lihat "Perspektif Islam dan Yudeo-Kristen" pada menu). 9. Perbuatan 9:26. 10. Perbuatan 15:1-5; 21:17-26; Orang-orang Galatia 2:1-9. Ingatlah bahwa Kitab Perbuatan ditulis oleh tradisi dan mazhab Paulus, dan karenanya
mempresentasikan
laporan yang sangat bias mengenai konflik antara Paulus dan "gereja" awal di Yerusalem. Misalnya, Perbuatan 21:17-26 mengaku menunjukkan bahwa "gereja" Yerusalem mendukung Paulus. Namun demikian, fakta yang sebenarnya adalah, sebagaimana dilaporkan dalam keterangan yang sebenarnya, bahwa para sesepuh "gereja" Yerusalem tersebut memerintahkan Paulus melaksanakan ritus-ritus sementara sebagai seorang Nazarite, yang menunjukkan bahwa ia harus melaksanakan pemurnian diri dan melaksanakan penebusan dosa untuk menebus apa yang telah ia perbuat. 11. Perbuatan 11:19. 12. Fenton JC (1973), hal. 453. 13. Hamilton W (1959), hal. 109. Wassalaam.

Berbagai isi Al-Kitab yang Bertentangan dg Sains

Assalamu alaikum,,,

Ada beberapa kasus dalam Alkitab yang secara tegas bertentangan dengan ilmu pengetahuan (sains) modern. Pertentangan ini membuktikan bahwa Alkitab sama sekali bukan firman Allah, tetapi merupakan karya tulis tangan- tangan jahil pada masa lampau. 1. KITAB KEJADIAN: Penciptaan siang dan matahari. 1:1. Pada mulanya Ellohim menciptakan langit dan bumi.
1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
1:3. Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.
1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. AYAT2 DI ATAS BERBICARA TENTANG PENCIPTAAN HARI PERTAMA. BANDINGKAN DENGAN PENCIPTAAN HARI KEEMPAT BERIKUT INI: 1:16 Maka Ellohim menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.
1:17 Ellohim menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
1:18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Ellohim melihat bahwa semuanya itu baik.
1:19 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat. Penjelasan: Dijelaskan menurut Alkitab, bahwa pada hari pertama, Ellohim (Tuhan- Tuhan) telah menciptakan siang dan malam. Ini sesuatu yang sangat aneh
dan tidak bisa diterima secara ilmiah oleh sains modern, oleh karena Ellohim baru menciptakan matahari pada hari keempat. Sesuatu yang sangat tidak masuk akal, bahwa "siang dan malam" sudah ada sebelum matahari diciptakan! Sebuah kitab yang seharusnya menjadi petunjuk bagi kemaslahatan umat manusia, ternyata bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang ada dalam umat manusia. Menurut sains modern, kejadian siang dan malam disebabkan oleh rotasi/berputarnya bumi pada porosnya terhadap matahari. Matahari yang terus-menerus bersinar menerangi sistem tata surya, menimbulkan terjadinya siang dan malam bukan saja terhadap bumi, tetapi juga terhadap delapan planet lainnya dalam sistem tata surya, berikut satelit-satelitnya (bulan dan semacamnya). Jadi, bukannya siang dan malam itu muncul secara tiba-tiba, tetapi ia muncul disebabkan oleh sinar matahari. 2. KITAB MARKUS: Jatuhnya bintang pada hari kiamat. Konon, Yesus berkata: 13:24. "Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya
13:25 dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa- kuasa langit akan goncang.1 13:32 Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja." Penjelasan: Menurut ayat 25, pengarang Markus, dimana konteksnya dinisbahkan ke mulut Yesus, menduga bahwa bintang2 di angkasa itu sebesar batu kali, sehingga pada hari kiamat nanti bintang2 itu akan berjatuhan menimpa bumi. Padahal, terdapat milyaran bintang di jagat raya ini, yang besarnya bahkan jauh melebihi bumi. Sebagai gambaran, dalam sistem jagat raya, matahari adalah sebuah bintang kecil yang bisa jadi tidak terlihat. Ini menunjukkan bahwa masih ada milyaran "matahari2" lain di jagat raya ini. Dalam sistem tata surya sendiri, matahari merupakan "bintang" terbesar, berturut2 disusul planet yupiter, saturnus, uranus, neptunus, baru kemudian bumi. Jadi, bagaimana mungkin bintang2 tersebut akan berjatuhan ke bumi? Sangat tidak ilmiah dan tidak masuk akal! Lebih lanjut, menurut ayat 32, Yesus sendiri tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat. Bagaimana mungkin Yesus yang konon adalah Tuhan sampai tidak tahu kapan datangnya hari kiamat? Konsep Tuhan yang sangat lemah! Kontroversi: 1. Markus 13:25 mungkin dapat dikontroversikan dengan ayat Al- Qur'an berikut ini: "Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya). (QS. 34:9) Wassalaam.
Assalamu alaikum,,

POLITEISME DALAM AJARAN KRISTEN (TRINITAS VERSUS ALKITAB) Kaum misionaris Kristen senantiasa mengajarkan bahwa Tuhan itu terdiri atas tiga pribadi dalam satu substansi atau yang lebih dikenal dengan istilah Trinitas atau Tritunggal
(Bapa, Anak/Yesus, dan Roh Kudus). Dari manakah dasar ajaran dan keyakinan ini? Adakah tertulis dalam Alkitab/Bibel? Pada bagian ini kita akan mencermati apa yang dikatakan Alkitab tentang konsep ketuhanan dengan mengkonfrontasikannya dengan ajaran/doktrin Trinitas. Tentu
saja dalam pembahasan ini kita harus memisahkan antara ajaran dan keyakinan tentang Trinitas dengan apa saja yang dikatakan Alkitab tentang konsep ketuhanan. 1. Bapa/Allah. Perjanjian Lama secara tegas menyatakan bahwa tidak ada tuhan- tuhan lain bagi umat Israel kecuali Allah. Akulah Tuhanmu, yang telah membebaskanmu dari negeri Mesir, keluar dari tempat perbudakan; engkau tidak ada memiliki tuhan- tuhan lain selain Aku. (Keluaran 20:2-3 - al. Douay-Rheims Bible 1582 M & King James Version 1611 M) Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. (Ulangan 4:35) Bahkan, dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri menyatakan secara tegas bahwa Tuhan itu hanyalah Allah saja. Jawab Yesus: "Hukum yang terutama
ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Markus 12:29) Jawab Yesus: "Mengapa engkau memanggilku Guru yang baik? Hanya Satu yang baik, yaitu Allah. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah-Nya. (Matius 19:17 - al. Douay-Rheims Bible 1582 M & King James Version 1611 M) Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3) Konsep ketuhanan dan keesaan Allah ini sangat jelas dikatakan oleh Alkitab. 2. Anak Allah. Frasa "anak Allah" banyak ditemukan dalam Alkitab. Namun demikian, Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa "anak Allah", siapa pun dia, memiliki kesetaraan dengan Allah. Tampaknya, Alkitab hanya ingin menggambarkan bahwa siapa saja yang memiliki hubungan kedekatan secara spiritual dengan Allah dianugerahi gelar sebagai "anak Allah". Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik- cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. (Kejadian 6:1-2) Menurut ayat di atas, disiratkan bahwa sebelum Allah menciptakan manusia, anak-anak Allah telah terlebih dahulu diciptakan, hingga ketika jumlah manusia bertambah banyak, konon anak-anak Allah tersebut tertarik kepada anak-anak perempuan manusia lalu mengambil istri dari antara perempuan- perempuan itu dan melahirkan keturunan bagi mereka (Kejadian 6:4). Simak juga anak-anak Allah yang lain berikut ini: Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; (Keluaran 4:22) Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi Bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku. (Yeremia 31:9) Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, anak Allah. (Markus 1:1) anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah. (Lukas 3:38) Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. (Matius 5:9) Selain itu, Alkitab juga menggambarkan bahwa orang- orang yang memiliki hubungan kedekatan secara sepiritual dengan Allah dianggap menjadi satu kesatuan dengan Allah. Yesus berkata: Bapaku, yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar daripada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu. (Yohanes 10:29-30) Dan bukan untuk mereka ini saja aku berdoa, tetapi juga untuk orang- orang, yang percaya kepadaku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku ... Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam aku, supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi aku ... dan aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepadaku ada di dalam mereka dan aku di dalam mereka. (Yohanes 17:20-21,23,26) Singkatnya, Alkitab mengatakan bahwa yang disebut "anak Allah" tidak hanya menunjuk kepada pribadi tertentu, tetapi bahkan meliputi segenap umat dan makhluk tertentu (anak-anak Allah yang bukan golongan manusia sebagaimana disebutkan dalam Kejadian 6:1-5). Sebagian besar umat Kristen menuhankan Yesus bersandarkan pada ayat berikut: Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibunya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. (Matius 1:18) Umat Kristen berkeyakinan bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah atau Allah sendiri, karenanya, bisa dipahami bahwa Yesus merupakan pengejawantahan dari Roh Kudus atau Allah. Namun demikian, Alkitab mencatat tentang peristiwa kelahiran Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) yang tidak kalah ajaibnya dibandingkan dengan peristiwa kelahiran Yesus dari perawan Maria. Konon, Yohanes Pembaptis lahir dari seorang perempuan mandul yang sudah tua bangka, namanya Elisabet, istri Nabi Zakharia. Peristiwa kehamilan Elisabet ini, dijelaskan dalam Alkitab, tidak terlepas dari bantuan penuh Roh Kudus. Konon, Yohanes Pembaptis diperkuat oleh Roh Kudus mulai dari rahim ibunya. Berikut petikan ayat-ayatnya: Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet ... Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya ... Tetapi malaikat (Gabriel) itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki- laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes ... Sebab ia (Yohanes) akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya ... Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus. (Lukas 1:5,7,13,15,41) Jika kita mau konsisten, maka kisah kelahiran Yohanes Pembaptis di atas tidak kalah ajaibnya dengan kisah kelahiran Yesus menurut Alkitab. Keduanya, memiliki kualifikasi yang sama, yakni sama-sama berkat campur tangan langsung Roh Kudus. Bedanya, jika Yesus lahir dari seorang perawan muda, maka Yohanes Pembaptis lahir dari seorang perempuan mandul yang sudah tua bangka. Keduanya tidak mungkin lahir tanpa bantuan langsung Roh Kudus. Jika Yesus dianggap Tuhan karena kejadiannya oleh sebab campur tangan langsung Roh Kudus, maka, mengapa umat Kristen tidak menuhankan Yohanes Pembaptis, yang juga kejadiannya oleh sebab campur tangan langsung Roh Kudus? 3. Roh Kudus. Tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki derajat kesetaraan dengan Allah. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa Roh Allah (Perjanjian Lama) tidak sama dengan Roh Kudus (Perjanjian Baru), karena umat Israel hanya memiliki satu Tuhan yaitu Allah (Elohim/Jahweh). Simak ayat berikut: Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang- layang di atas permukaan air. (Kejadian 1:2) Roh Allah sebagaimana tersebut dalam ayat di atas (Perjanjian Lama) bermakna Allah sendiri dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru. Demikian juga dengan roh Allah sebagaimana tersebut dalam pesan Yesaya berikut ini: Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa- bangsa. (Yesaya 42:1) Roh Allah dalam pesan Yesaya di atas bermakna roh ciptaan Allah. Allah telah menentukan "orang pilihan"-Nya dengan memberikan roh kepadanya sejak masih dalam kandungan. Makhluk hidup seperti malaikat, jin, manusia, dan binatang semuanya memiliki roh yang diciptakan oleh Allah. Namun demikian, hanya tertentu saja dari mereka yang menjadi "orang pilihan"-Nya. Berkenaan dengan pesan Yesaya di atas, Perjanjian Baru secara khusus menyebut istilah roh Allah berikut ini: Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan ia melihat roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya, lalu terdengarlah suara dari langit yang mengatakan: "Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan." (Matius 3:16-17) Ayat Matius tersebut sebenarnya merupakan distorsi dari pesan Yesaya di atas. Dalam hal ini, bukanlah maksud pengarang Matius untuk menyatakan kesetaraan Yesus
dengan Allah, tetapi bahwa pengarang Matius berupaya keras untuk menggenapi seluruh nubuat Perjanjian Lama dengan menyuguhkan sosok Yesus. Bagaimanapun juga, roh Allah dalam kasus Matius ini tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Roh Kudus. Lebih jauh, tidak ada konfirmasi sama sekali dalam seluruh Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki derajat kesetaraan dengan Allah. Bahkan, dalam Perjanjian Baru sendiri, dengan mengkontraskan Matius 1:18 dan Lukas 1:26-27 dapat diidentifikasi bahwa Roh Kudus sebenarnya adalah malaikat Gabriel. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. (Matius 1:18) Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. (Lukas 1:26-27) Ringkasnya, identifikasi yang paling mungkin atau bahkan paling tepat tentang pribadi Roh Kudus adalah malaikat Gabriel. Malaikat Gabriel adalah malaikat yang mempunyai tugas sebagai penyampai wahyu/ ilham/pesan dari Allah kepada orang-orang tertentu yang menjadi pilihan Allah di muka bumi. Ia sering berubah-ubah bentuk fisik.1 Ia bisa menjelma menjadi manusia, binatang, benda mati, raksasa, hingga kembali ke bentuk aslinya sebagai Roh Kudus (Roh Suci yang ghaib). Dalam hal ini perlu dijelaskan ketika malaikat Gabriel menghampiri Maria dalam wujud manusia dengan menjanjikan Roh Kudus: Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah. (Lukas 1:34-35) Dijelaskan dalam ayat di atas, bahwa ketika menghampiri Maria untuk mengabarkan kehamilannya, malaikat Gabriel berubah wujud seperti manusia, dan ketika memperkuat janin Yesus (Nabi Isa) dalam kandungan rahim Maria, malaikat Gabriel kembali ke wujud aslinya sebagai Roh Kudus. Demikian pula ketika memperkuat janin Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) dalam kandungan rahim Elisabet, malaikat Gabriel berwujud sebagai Roh Kudus. Konon, janin Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan ketika mendengan salam Maria: Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus. (Lukas 1:41) Roh Kudus juga konon memberi wahyu/ilham kepada Nabi Zakharia untuk bernubuat: Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: ... (Lukas 1:67) Terlepas dari persoalan siapa sebenarnya Roh Kudus itu, yang pasti Alkitab tidak pernah meninggikan derajat Roh Kudus hingga setara dengan Allah. 4. Doktrin Paulus Tarsus. Berikut doktrin ketuhanan menurut Paulus: Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. (1 Korintus 8:6) Dari ayat di atas, Paulus ingin mempengaruhi orang-orang Korintus
pada waktu itu agar mengikuti ajarannya, bahwa Tuhan terdiri dari dua substansi yaitu Bapa dan Yesus Kristus. Doktrin Paulus di atas, bukan saja bertentangan dengan konsep ketuhanan dalam Perjanjian Lama, tetapi juga bertentangan dengan pernyataan Yesus dalam kitab-kitab kanonik (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes). Lebih jauh, Paulus juga menyampaikan sebuah konsep tentang kemanunggalan Tuhan bersama Melkisedek: Ia (Melkisedek) tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah (Yesus), ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya. (Ibrani 7:3) Jadi, menurut Doktrin Paulus, Tuhan merupakan kemanunggalan dari tiga mitra yang sejajar yang terdiri atas Bapa, Yesus, dan Melkisedek. Tentu saja, yang membuat kita terheran-heran adalah, mengapa surat-surat Paulus yang berjumlah 14 kitab itu begitu saja diterima dan dimasukkan ke dalam kanon Perjanjian Baru hanya oleh usulan Athanasius, uskup Aleksandria pada tahun 367 M? Sebagaimana dapat dibaca dalam berbagai literatur, Paulus bukan dan tidak pernah menjadi murid Yesus. Pernyataan- pernyataanya merupakan tulisan yang sangat jelas membesarkan diri sendiri. Perlu diketahui, bahwa tidak ada nabi/rasul yang menulis kitab dengan tangan sendiri. Semua ajaran nabi/rasul ditulis dan diabadikan oleh para pengikutnya yang percaya akan kenabian/kerasulannya. Jika ada seorang yang mengaku nabi/ rasul dengan menulis sendiri ajarannya dalam sebuah kitab tertentu dan menyebarkannya kepada orang lain maka dapat dipastikan ia adalah nabi/rasul palsu, terlebih jika tulisan tersebut tampak jelas berisi ajaran dengan membesarkan diri sendiri. KESIMPULAN: Konsep ketuhanan Trinitas yang dikumandangkan para misionaris Kristen sesungguhnya tidak ada dalam Alkitab. Ia adalah doktrin gereja dan merupakan pengembangan sayap dari Doktrin Paulus, yang selanjutnya dipercaya begitu saja oleh umat Kristen tanpa dasar yang kuat. Keterangan: 1. Beberapa wujud malaikat Gabriel yang dicatat dalam Alkitab/ Bibel antara lain: (a) Wujud raksasa. Konon digambarkan dalam Alkitab, ketika Nabi Zakharia hendak membakar ukupan di dalam Bait Suci, ia melihat malaikat Gabriel berdiri di sebelah kanan mezbah dalam wujud raksasa. Kontan saja, Nabi Zakharia terkejut dan ketakutan: Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut ... Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. (Lukas 1:11-12,19) (b) Wujud manusia biasa. Ketika hendak mengabarkan kehamilan Maria, malaikat Gabriel berwujud seperti manusia biasa dengan memasuki rumah Maria: Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. (Lukas 1:28-29) (c) Wujud asli sebagai Roh Kudus. Dijelaskan dalam Alkitab, sebagaimana yang konon dituturkan oleh malaikat Gabriel, Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) akan diperkuat oleh Roh Kudus mulai dari rahim ibunya (Elisabet). Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya. (Lukas 1:15)Assalamu alaikum,,

POLITEISME DALAM AJARAN KRISTEN (TRINITAS VERSUS ALKITAB) Kaum misionaris Kristen senantiasa mengajarkan bahwa Tuhan itu terdiri atas tiga pribadi dalam satu substansi atau yang lebih dikenal dengan istilah Trinitas atau Tritunggal
(Bapa, Anak/Yesus, dan Roh Kudus). Dari manakah dasar ajaran dan keyakinan ini? Adakah tertulis dalam Alkitab/Bibel? Pada bagian ini kita akan mencermati apa yang dikatakan Alkitab tentang konsep ketuhanan dengan mengkonfrontasikannya dengan ajaran/doktrin Trinitas. Tentu
saja dalam pembahasan ini kita harus memisahkan antara ajaran dan keyakinan tentang Trinitas dengan apa saja yang dikatakan Alkitab tentang konsep ketuhanan. 1. Bapa/Allah. Perjanjian Lama secara tegas menyatakan bahwa tidak ada tuhan- tuhan lain bagi umat Israel kecuali Allah. Akulah Tuhanmu, yang telah membebaskanmu dari negeri Mesir, keluar dari tempat perbudakan; engkau tidak ada memiliki tuhan- tuhan lain selain Aku. (Keluaran 20:2-3 - al. Douay-Rheims Bible 1582 M & King James Version 1611 M) Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. (Ulangan 4:35) Bahkan, dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri menyatakan secara tegas bahwa Tuhan itu hanyalah Allah saja. Jawab Yesus: "Hukum yang terutama
ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Markus 12:29) Jawab Yesus: "Mengapa engkau memanggilku Guru yang baik? Hanya Satu yang baik, yaitu Allah. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah-Nya. (Matius 19:17 - al. Douay-Rheims Bible 1582 M & King James Version 1611 M) Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3) Konsep ketuhanan dan keesaan Allah ini sangat jelas dikatakan oleh Alkitab. 2. Anak Allah. Frasa "anak Allah" banyak ditemukan dalam Alkitab. Namun demikian, Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa "anak Allah", siapa pun dia, memiliki kesetaraan dengan Allah. Tampaknya, Alkitab hanya ingin menggambarkan bahwa siapa saja yang memiliki hubungan kedekatan secara spiritual dengan Allah dianugerahi gelar sebagai "anak Allah". Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik- cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. (Kejadian 6:1-2) Menurut ayat di atas, disiratkan bahwa sebelum Allah menciptakan manusia, anak-anak Allah telah terlebih dahulu diciptakan, hingga ketika jumlah manusia bertambah banyak, konon anak-anak Allah tersebut tertarik kepada anak-anak perempuan manusia lalu mengambil istri dari antara perempuan- perempuan itu dan melahirkan keturunan bagi mereka (Kejadian 6:4). Simak juga anak-anak Allah yang lain berikut ini: Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; (Keluaran 4:22) Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi Bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku. (Yeremia 31:9) Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, anak Allah. (Markus 1:1) anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah. (Lukas 3:38) Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. (Matius 5:9) Selain itu, Alkitab juga menggambarkan bahwa orang- orang yang memiliki hubungan kedekatan secara sepiritual dengan Allah dianggap menjadi satu kesatuan dengan Allah. Yesus berkata: Bapaku, yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar daripada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu. (Yohanes 10:29-30) Dan bukan untuk mereka ini saja aku berdoa, tetapi juga untuk orang- orang, yang percaya kepadaku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku ... Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam aku, supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi aku ... dan aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepadaku ada di dalam mereka dan aku di dalam mereka. (Yohanes 17:20-21,23,26) Singkatnya, Alkitab mengatakan bahwa yang disebut "anak Allah" tidak hanya menunjuk kepada pribadi tertentu, tetapi bahkan meliputi segenap umat dan makhluk tertentu (anak-anak Allah yang bukan golongan manusia sebagaimana disebutkan dalam Kejadian 6:1-5). Sebagian besar umat Kristen menuhankan Yesus bersandarkan pada ayat berikut: Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibunya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. (Matius 1:18) Umat Kristen berkeyakinan bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah atau Allah sendiri, karenanya, bisa dipahami bahwa Yesus merupakan pengejawantahan dari Roh Kudus atau Allah. Namun demikian, Alkitab mencatat tentang peristiwa kelahiran Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) yang tidak kalah ajaibnya dibandingkan dengan peristiwa kelahiran Yesus dari perawan Maria. Konon, Yohanes Pembaptis lahir dari seorang perempuan mandul yang sudah tua bangka, namanya Elisabet, istri Nabi Zakharia. Peristiwa kehamilan Elisabet ini, dijelaskan dalam Alkitab, tidak terlepas dari bantuan penuh Roh Kudus. Konon, Yohanes Pembaptis diperkuat oleh Roh Kudus mulai dari rahim ibunya. Berikut petikan ayat-ayatnya: Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet ... Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya ... Tetapi malaikat (Gabriel) itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki- laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes ... Sebab ia (Yohanes) akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya ... Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus. (Lukas 1:5,7,13,15,41) Jika kita mau konsisten, maka kisah kelahiran Yohanes Pembaptis di atas tidak kalah ajaibnya dengan kisah kelahiran Yesus menurut Alkitab. Keduanya, memiliki kualifikasi yang sama, yakni sama-sama berkat campur tangan langsung Roh Kudus. Bedanya, jika Yesus lahir dari seorang perawan muda, maka Yohanes Pembaptis lahir dari seorang perempuan mandul yang sudah tua bangka. Keduanya tidak mungkin lahir tanpa bantuan langsung Roh Kudus. Jika Yesus dianggap Tuhan karena kejadiannya oleh sebab campur tangan langsung Roh Kudus, maka, mengapa umat Kristen tidak menuhankan Yohanes Pembaptis, yang juga kejadiannya oleh sebab campur tangan langsung Roh Kudus? 3. Roh Kudus. Tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki derajat kesetaraan dengan Allah. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa Roh Allah (Perjanjian Lama) tidak sama dengan Roh Kudus (Perjanjian Baru), karena umat Israel hanya memiliki satu Tuhan yaitu Allah (Elohim/Jahweh). Simak ayat berikut: Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang- layang di atas permukaan air. (Kejadian 1:2) Roh Allah sebagaimana tersebut dalam ayat di atas (Perjanjian Lama) bermakna Allah sendiri dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru. Demikian juga dengan roh Allah sebagaimana tersebut dalam pesan Yesaya berikut ini: Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa- bangsa. (Yesaya 42:1) Roh Allah dalam pesan Yesaya di atas bermakna roh ciptaan Allah. Allah telah menentukan "orang pilihan"-Nya dengan memberikan roh kepadanya sejak masih dalam kandungan. Makhluk hidup seperti malaikat, jin, manusia, dan binatang semuanya memiliki roh yang diciptakan oleh Allah. Namun demikian, hanya tertentu saja dari mereka yang menjadi "orang pilihan"-Nya. Berkenaan dengan pesan Yesaya di atas, Perjanjian Baru secara khusus menyebut istilah roh Allah berikut ini: Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan ia melihat roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya, lalu terdengarlah suara dari langit yang mengatakan: "Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan." (Matius 3:16-17) Ayat Matius tersebut sebenarnya merupakan distorsi dari pesan Yesaya di atas. Dalam hal ini, bukanlah maksud pengarang Matius untuk menyatakan kesetaraan Yesus
dengan Allah, tetapi bahwa pengarang Matius berupaya keras untuk menggenapi seluruh nubuat Perjanjian Lama dengan menyuguhkan sosok Yesus. Bagaimanapun juga, roh Allah dalam kasus Matius ini tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Roh Kudus. Lebih jauh, tidak ada konfirmasi sama sekali dalam seluruh Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki derajat kesetaraan dengan Allah. Bahkan, dalam Perjanjian Baru sendiri, dengan mengkontraskan Matius 1:18 dan Lukas 1:26-27 dapat diidentifikasi bahwa Roh Kudus sebenarnya adalah malaikat Gabriel. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. (Matius 1:18) Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. (Lukas 1:26-27) Ringkasnya, identifikasi yang paling mungkin atau bahkan paling tepat tentang pribadi Roh Kudus adalah malaikat Gabriel. Malaikat Gabriel adalah malaikat yang mempunyai tugas sebagai penyampai wahyu/ ilham/pesan dari Allah kepada orang-orang tertentu yang menjadi pilihan Allah di muka bumi. Ia sering berubah-ubah bentuk fisik.1 Ia bisa menjelma menjadi manusia, binatang, benda mati, raksasa, hingga kembali ke bentuk aslinya sebagai Roh Kudus (Roh Suci yang ghaib). Dalam hal ini perlu dijelaskan ketika malaikat Gabriel menghampiri Maria dalam wujud manusia dengan menjanjikan Roh Kudus: Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah. (Lukas 1:34-35) Dijelaskan dalam ayat di atas, bahwa ketika menghampiri Maria untuk mengabarkan kehamilannya, malaikat Gabriel berubah wujud seperti manusia, dan ketika memperkuat janin Yesus (Nabi Isa) dalam kandungan rahim Maria, malaikat Gabriel kembali ke wujud aslinya sebagai Roh Kudus. Demikian pula ketika memperkuat janin Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) dalam kandungan rahim Elisabet, malaikat Gabriel berwujud sebagai Roh Kudus. Konon, janin Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan ketika mendengan salam Maria: Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus. (Lukas 1:41) Roh Kudus juga konon memberi wahyu/ilham kepada Nabi Zakharia untuk bernubuat: Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: ... (Lukas 1:67) Terlepas dari persoalan siapa sebenarnya Roh Kudus itu, yang pasti Alkitab tidak pernah meninggikan derajat Roh Kudus hingga setara dengan Allah. 4. Doktrin Paulus Tarsus. Berikut doktrin ketuhanan menurut Paulus: Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. (1 Korintus 8:6) Dari ayat di atas, Paulus ingin mempengaruhi orang-orang Korintus
pada waktu itu agar mengikuti ajarannya, bahwa Tuhan terdiri dari dua substansi yaitu Bapa dan Yesus Kristus. Doktrin Paulus di atas, bukan saja bertentangan dengan konsep ketuhanan dalam Perjanjian Lama, tetapi juga bertentangan dengan pernyataan Yesus dalam kitab-kitab kanonik (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes). Lebih jauh, Paulus juga menyampaikan sebuah konsep tentang kemanunggalan Tuhan bersama Melkisedek: Ia (Melkisedek) tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah (Yesus), ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya. (Ibrani 7:3) Jadi, menurut Doktrin Paulus, Tuhan merupakan kemanunggalan dari tiga mitra yang sejajar yang terdiri atas Bapa, Yesus, dan Melkisedek. Tentu saja, yang membuat kita terheran-heran adalah, mengapa surat-surat Paulus yang berjumlah 14 kitab itu begitu saja diterima dan dimasukkan ke dalam kanon Perjanjian Baru hanya oleh usulan Athanasius, uskup Aleksandria pada tahun 367 M? Sebagaimana dapat dibaca dalam berbagai literatur, Paulus bukan dan tidak pernah menjadi murid Yesus. Pernyataan- pernyataanya merupakan tulisan yang sangat jelas membesarkan diri sendiri. Perlu diketahui, bahwa tidak ada nabi/rasul yang menulis kitab dengan tangan sendiri. Semua ajaran nabi/rasul ditulis dan diabadikan oleh para pengikutnya yang percaya akan kenabian/kerasulannya. Jika ada seorang yang mengaku nabi/ rasul dengan menulis sendiri ajarannya dalam sebuah kitab tertentu dan menyebarkannya kepada orang lain maka dapat dipastikan ia adalah nabi/rasul palsu, terlebih jika tulisan tersebut tampak jelas berisi ajaran dengan membesarkan diri sendiri. KESIMPULAN: Konsep ketuhanan Trinitas yang dikumandangkan para misionaris Kristen sesungguhnya tidak ada dalam Alkitab. Ia adalah doktrin gereja dan merupakan pengembangan sayap dari Doktrin Paulus, yang selanjutnya dipercaya begitu saja oleh umat Kristen tanpa dasar yang kuat. Keterangan: 1. Beberapa wujud malaikat Gabriel yang dicatat dalam Alkitab/ Bibel antara lain: (a) Wujud raksasa. Konon digambarkan dalam Alkitab, ketika Nabi Zakharia hendak membakar ukupan di dalam Bait Suci, ia melihat malaikat Gabriel berdiri di sebelah kanan mezbah dalam wujud raksasa. Kontan saja, Nabi Zakharia terkejut dan ketakutan: Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut ... Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. (Lukas 1:11-12,19) (b) Wujud manusia biasa. Ketika hendak mengabarkan kehamilan Maria, malaikat Gabriel berwujud seperti manusia biasa dengan memasuki rumah Maria: Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. (Lukas 1:28-29) (c) Wujud asli sebagai Roh Kudus. Dijelaskan dalam Alkitab, sebagaimana yang konon dituturkan oleh malaikat Gabriel, Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) akan diperkuat oleh Roh Kudus mulai dari rahim ibunya (Elisabet). Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya. (Lukas 1:15)

Yesus bukanlah Tuhan

TUGAS KERASULAN YESUS !!! [QS. 61:6. Dan (ingatlah) ketika Yesus anak Maria berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti- bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata."] Sebelum membahas lebih lanjut mengenai tugas kerasulan Yesus, ada baiknya kita mengklarifikasi pernyataan yang diduga berasal dari atau sengaja diletakkan ke mulut Yesus menurut pengarang Lukas berikut ini: LUKAS: 16:16 Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.
16:17 Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal. Menurut ayat 16 di atas, Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes Pembaptis. Apakah pernyataan ini benar? Ayat 16 di atas tampaknya merupakan serpihan yang telah direnovasi dari sumber Q yang dikutip lengkap oleh pengarang Matius berikut ini: MATIUS: 11:12 Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.
11:13 Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga
tampilnya Yohanes Menurut ayat 12 dan 13 dalam Matius, bukannya Hukum Taurat dan kitab para nabi yang berlaku sampai zaman Yohanes Pembaptis, akan tetapi NUBUAT para nabi dan kitab Tauratlah yang sampai kepada zaman Yohanes Pembaptis. Pernyataan menurut Matius ini, terlepas dari getolnya pengarang Matius dalam menyuguhkan tokoh Yesus sebagai satu2nya orang yang akan menggenapi seluruh nubuat Kitab Taurat dan kitab para nabi (baca lagi Distorsi Matius 1), adalah pernyataan yang paling mungkin yang diduga berasal dari Yesus berkenaan dengan sikap Yesus terhadap Kitab Taurat dan kitab para nabi, karena disamping kutipannya lebih lengkap, ia juga tidak bertentangan dengan "pernyataan Yesus" dalam Matius 5:17-48 yang berisi penegasan Yesus tentang tugas kerasulannya kepada umat Israel. Sedangkan "pernyataan Yesus" dalam Lukas 16:16 yang menyatakan bahwa Hukum Taurat berlaku hingga zaman Yohanes, tidak lain merupakan akal2an pengarang Lukas saja, karena dalam bukunya yang kedua, yang merupakan kitab propaganda, "Kisah Para Rasul", pengarang Lukas mempromosikan seorang tokoh pembuat ajaran Kristen yang bernama Paulus (Saulus dari Tarsus). Jika Lukas 16:16 merupakan serpihan dari sumber Q yang dikutip lengkap dalam Matius 11:12-13, maka Lukas 16:17 tampak jelas merupakan serpihan dari sumber Q yang dikutip lengkap dalam Matius 5:18 (di bawah). Jelaslah bahwa Lukas 16:16 tidak mungkin merupakan pernyataan Yesus yang utuh, ia merupakan serpihan yang sudah diedit dari pernyataan yang diduga berasal dari Yesus, yang dimaksudkan oleh pengarangnya untuk mempromosikan tokoh Paulus Tarsus dalam buku karangannya yang kedua, "Kisah Para Rasul". Lebih jauh, pengarang Lukas sendiri dalam Lukas 23:55-56 berkisah tentang para pengikut Yesus yang mengkuduskan hari Sabat setelah menyaksikan mayat "Yesus" dibaringkan. Sebagaimana diketahui, pengkudusan hari Sabat merupakan bagian pokok dari hukum Taurat. Bagaimana mungkin hukum Taurat berlaku sampai kepada zaman Yohanes Pembaptis sementara para pengikut Yesus sendiri mengkuduskan hari Sabat justru setelah "Yesus" mati? LUKAS: 23:55. Dan perempuan- perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya (Yesus) dibaringkan.
23:56. Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat. Adapun pernyataan Yesus dari sumber Q tentang tugas kerasulan Yesus, dikutip lengkap oleh pengarang Matius di bawah ini: MATIUS: 5:17. "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari
hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya
demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 5:21. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan
persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada
hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada
pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas. 5:27. Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 5:29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 5:30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. 5:31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali
karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. 5:33. Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
5:34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali- kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
5:35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem
adalah kota Raja Besar;
5:36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun.
5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. 5:38. Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
5:41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. 5:43. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?
5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." Menurut ayat 17 di atas, Yesus menyatakan bahwa ia datang bukan untuk menghilangkan Hukum Taurat dan kitab para nabi, tetapi hanya untuk menggenapinya (melengkapinya). Pernyataan Yesus ini jelas bertentangan dengan pernyataan Paulus Tarsus dalam Galatia berikut ini: GALATIA: 2:16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat. Untuk mempersingkat, kita abaikan saja pernyataan Paulus Tarsus di atas, dan kita lanjutkan pembahasan mengenai tugas kerasulan Yesus. Dalam ayat 18 di atas, Matius menjelaskan melalui mulut Yesus bahwa Hukum Taurat itu berlaku hingga hari kiamat. Ringkasnya, Yesus sama sekali tidak meniadakan Hukum Taurat dan kitab para nabi, akan tetapi justru untuk menegakkan kembali Hukum Taurat dan melengkapinya dengan Kitab Suci Injil. Benarkah ini? Perhatikan ayat 19 dan 20 di atas. Dalam ayat 19, Yesus menyatakan bahwa siapa yang meniadakan salah
satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Bahkan dalam ayat 20, Yesus mengancam kepada umat Israel, bahwa jika hidup keagamaan mereka tidak lebih
benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, mereka diancam tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Perlu dijelaskan, bahwa ahli2 Taurat dan orang2 Farisi adalah kelompok masyarakat Israel yang senantiasa menentang ajaran dan mencari2 kesalahan Yesus. Apa buktinya? Secara singkat saja, berikut ini bukti tegas tentang penegakan Hukum Taurat oleh Yesus: Dalam ayat 27, Yesus mengutip Hukum Taurat yang tersebut dalam Keluaran 20:14 dan Ulangan 5:18, "Jangan berzinah". Menurut Hukum Taurat dalam Ulangan 22:13-27 dan Imamat 20:10-21, setiap pelaku zinah, baik laki2 maupun perempuan, keduanya wajib dilempari batu oleh orang2 sekotanya sampai mati. Dalam kasus ini Yesus menggenapinya dengan menyatakan bahwa: - Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. - Jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka (MATIUS 5:29; 18:9 dan MARKUS 9:47). - Jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka (Matius 5:30). Dan dalam Matius 18:8 dikatakan, jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal (lihat juga Markus 9:43,45). Berkenaan dengan Hukum Taurat tentang pelaku zinah, ada baiknya kita simak kasus zinah menurut pengarang Yohanes berikut ini: YOHANES: 8:1. tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah- tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan- perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus- menerus bertanya kepada- Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." 8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Ketika ditanya ahli2 Taurat tentang Hukum Taurat untuk pelaku zinah (ayat 5), Yesus sama sekali tidak membantahnya, malah justru Yesus berkata, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (ayat 7). Jelas, ini bukti kuat bahwa Yesus datang bukan untuk menghilangkan Hukum Taurat dan kitab para nabi, tetapi untuk menegakkannya dan melengkapinya. Namun demikian, mengingat tindakan ahli2 Taurat di atas hanya untuk mencari2 kesalahan Yesus, hukum rajam pun batal dilakukan. Akan tetapi yang terpenting adalah bahwa Yesus sama sekali tidak membantah hukum rajam dalam Taurat, tetapi malah memerintahkan ahli2 Taurat untuk merajamnya (ayat 6). Adapun tentang batalnya hukum rajam dalam kasus Yohanes di atas, ada dua hal yang menyebabkannya: 1. Rajam tersebut tidak memenuhi syarat Hukum Taurat, dimana rajam harus dilakukan atau dieksekusi oleh seluruh orang2 yang sekota dengan pelaku zinah tersebut (Ulangan 22:13-27 dan Imamat 20:10-21). 2. Terdapat kejanggalan dalam kasus di atas, karena pelaku zinah yang diajukan hanya dari pihak perempuan, padahal menurut Hukum Taurat dalam Ulangan 22:13-27 dan Imamat 20:10-21, kedua pelaku zinah, baik perempuan maupun laki2 (atau binatang kalo ia berkelamin dengan binatang), harus diajukan dan dieksekusi secara bersama2. Lebih lanjut, pengampunan yang diberikan Yesus dalam Yohanes 8:11, sama sekali tidak ada kaitannya dengan hukum baru, tetapi oleh karena kedua sebab di atas dan mengingat tindakan ahli2 Taurat tersebut hanya untuk mencari2 kesalahan Yesus. Bukti kuat lainnya berkaitan dengan tugas kerasulan Yesus dapat disimak di bawah ini: MATIUS: 7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. 15:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?
15:4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. 23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang- orang Farisi, hai kamu orang- orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. MARKUS: 7:10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Ayat2 yang merupakan "pernyataan Yesus" di atas merupakan Hukum Taurat sebagaimana dimaksud dalam Kitab Keluaran, Kitab Ulangan, dan Kitab Imamat, antara lain berikut ini: KELUARAN: 20:12. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
21:17 Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti dihukum mati. ULANGAN: 5:16 Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. IMAMAT: 20:9 Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri. Jadi jelaslah, bahwa Hukum Taurat dan kitab para nabi adalah bagian dari tugas yang diemban Yesus kepada umat Israel untuk ditegakkan, BUKAN untuk dihilangkan sebagaimana pernyataan Paulus Tarsus dalam Galatia 2:16 tersebut di atas.

Kamis, 22 Maret 2012

Sunni dan Syiah,hingga kiamat takkan perna bersatu

Assalamu alaikum,,

Oleh: Al Fadhli* Jumat (20/5) telah dideklarasikan sebuah majelis yang menaungi dua sekte dalam Islam, Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) dan Syi’ah. Majelis yang dimotori oleh PP DMI dan PP IJABI ini dideklarasikan dengan nama MUHSIN yang merupakan kepanjangan dari Majelis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia. Walaupun, belakangan PP DMI menolak keterlibatan dalam deklarasi ini, namun tetap bahwa keterlibatan kader DMI yang notabene merupakan seorang Sunni dapat menjadi syubhat bagi masyarakat r awam. Deklarasi ukhuwah dua sekte besar Islam ini merupakan deklarasi yang pertama kali dilakukan di dunia. Nusantara telah menjadi saksi kejahilan umat muslim di negeri ini. Apakah warga muslim sunni yang terlibat dalam deklarasi ini tidak tahu hakekat Syi’ah..? Atau hal ini merupakan sebuah konspirasi yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dalam mengaburkan al haqq dan mencampur-baurkannya dengan al bathil..? H. Daud Poliradja (Ketua Departemen Kepemudaan PP DMI) berkata dalam deklarasi MUSHIN di Jakarta, “Kami yakin Sunni-Syiah bisa bersatu dalam bingkai kebhineka-an tanpa memandang aspek Fikih.” (sabili.co.id, 24/05/11). Sebagai seorang intelektual, seharusnya Daud Poliradja memahami dengan benar hakikat syi’ah yang sebenarnya dan perbedaan di antara sunni dan syi’ah bukan merupakan perbedaan madzhab fikih belaka. Lebih dari itu, sunni dan syi’ah berbeda keyakinan dalam hal-hal yang fundamental (aqidah). SIAPAKAH SYI’AH? Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al- Awaji). Adapun menurut terminologi syariat, Ibnu Hazm telah memberikan definisi yang mudah difahami: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al- Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113). Asy Syahrastani menyatakan bahwa syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147). Adapun syi’ah yang tergabung dalam organisasi IJABI merupakan syi’ah imamiyah atau dikenal juga dengan nama syi’ah 12 imam. Sedangkan ulama ahlus sunnah biasa menyebut kelompok ini dengan sebutan rafidhah. Kelompok inilah yang merupakan kelompok mayoritas dan masih tersebar hingga kini, bahkan mereka telah memiliki sebuah negara dan pemerintahan di Iran. MENCELA DAN MENGKAFIRKAN SAHABAT NABI Di antara perbedaan yang mendasar antara sunni dengan syi’ah adalah pendapat dan keyakinan kedua sekte ini tentang kedudukan para sahabat Nabi. Diriwayatkan oleh seorang ulama syi’ah Al- Kisysyi dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13), dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar
Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” Kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89). Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al- Kulaini berkata: “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir). Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy- Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46). Bahkan dalam sebuah ceramah, seorang ulama syi’ah di Iran mencela Ummul Mu’minin ‘A`isyah dengan mengatakan bahwa sebutan al humaira (kemerah-merahan) yang diberikan Nabi kepada ‘A`isyah bukanlah berasal dari kata “al hamra” (merah), tapi berasal dari kata al himar (keledai), sehingga al humaira tidak diartikan sebagai “yang kemerah-merahan” namun menjadi “yang seperti keledai”. Na’udzubillah. Tidaklah salah kemudian bila kita mengatakan bahwa keyakinan syi’ah lebih buruk daripada Yahudi dan Nashrani. Jika kita tanyakan kepada orang-orang Yahudi: siapakah orang terbaik dalam agama kalian? Maka tentulah mereka akan menjawab: sahabat- sahabat Musa. Dan umat Islam menyepakatinya. Jika kita tanyakan kepada orang-orang Nashrani: siapakah orang-orang terbaik dalam agama kalian? Maka pasti mereka akan menjawab: sahabat-sahabat Isa. Namun, jika kita bertanya kepada orang-orang syi’ah: siapakah orang-orang terburuk dalam agama kalian? Maka mereka akan menjawab: para sahabat Nabi. Maka, apakah ada yang lebih buruk daripada pemahaman seperti ini dalam menilai kedudukan para sahabat Nabi? PENDAPAT ULAMA AHLUS SUNNAH TENTANG SYI’AH Ulama ahlus sunnah telah menyepakati kesesatan syi’ah sejak lama. Di antara ulama ahlus sunnah yang menyatakan keburukan sekte syi’ah rafidhah adalah: 1. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)”. (Siyar A’lamin Nubala, 7/253) 2. Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata: “Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam.” 3. Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: "Saya telah mendengar Imam Asy-Syafi’i, apabila disebut nama syi’ah rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: kelompok terburuk.” (Al Manâqib, karya al Baihaqiy 1/468) 4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal). 5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125) Serta masih banyak lagi pendapat ulama ahlus sunnah tentang kesesatan dan keburukan syi’ah. Maka, apakah mungkin sunni dan syi’ah bersatu? Apakah mungkin kelompok orang-orang yang memuliakan para sahabat bisa bernaung bersama orang-orang yang menghinakan mereka..? Apalagi, jika kita telusuri lagi berbagai macam kesesatan syi’ah lainnya, maka kita tidak akan pernah menemukan sehelai benang merah pun yang dapat mengikat ukhuwah antara sunni dan syi’ah, karena selama keyakinan syi’ah belum berubah dan mereka belum bertaubat atas segala macam bentuk kesesatannya, maka selama itu pula pertentangan dan permusuhan di antara sunni dan syi’ah. Wallahu a’lam. *Penulis adalah Ketua Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Bandung Sumber: Voice of Islam

Kedook di balik Syiah

Assalamu alaikum,,,,

Gerakan Transnasional Syi’ah
Kontemporer di Timur Tengah
(Studi Kasus Antagonisme Iran
dan Hizbullah terhadap Amerika
Serikat dan Israel) Posted on July 4th, 2011 arie 1 comment Oleh : Arie Alfikri*
Pengantar
Di balik hegemoni Amerika Serikat di dunia umumnya
dan hegemoni Israel di Timur Tengah, ada 2 aktor
dunia yang secara frontal melakukan perlawanan
terhadap kedua negara tersebut. Aktor tersebut adalah Iran (state actor) dan Hizbullah (non state
actor). Bisa dilihat bagaimana seorang Presiden Iran
Mahmud Ahmadinejad dengan lantang menyerukan
agar Israel dihapus keberadaannya dari peta dunia.
Selain itu sikapnya yang konsisten untuk melanjutkan
proyek nuklir walaupun ditentang oleh Amerika Serikat dan PBB. Antagonisme terhadap Amerika
Serikat dan Israel juga ditunjukkan oleh gerakan
Islam Syi’ah Lebanon yang dipimpin oleh Syekh
Hassan Nasrallah yakni Hizbullah. Dunia dikejutkan oleh kemenangan Hizbullah dalam
perang melawan Israel selama sebulan pada tahun
2006. Dimana kemenangan ini sangat memalukan
Israel yang dikenal kuat dalam militer karena dibantu
oleh Amerika Serikat. Sehingga bisa dikatakan bahwa
Iran dan Hizbullah telah menjadi icon masyarakat dunia untuk menggugat imperialisme dan hegemoni
Amerika-Israel. Dalam dunia Islam, Iran dan Hizbullah dikenal sebagai
gerakan Syi’ah. Syi’ah dalam terminologi syariat
bermakna : mereka yang berkedok dengan slogan
kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak
cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama
dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin,
demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-
Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya
Ibnu Hazm). Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah
adalah suatu aliran yang timbul sejak masa
pemerintahan Utsman bin Affan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ Al-Himyari. Walaupun dikenal
sebagai gerakan Syi’ah, Iran dan Hizbullah tetap
dianggap sebagai lokomotif perjuangan Dunia Islam
melawan hegemoni AS dan Israel. Iran dan Hizbullah
dianggap telah banyak memberikan pelajaran
bagaimana seharusnya umat Islam dunia harus bersikap terhadap kezaliman. Popularitas kedua
gerakan Syi’ah ini terus naik dan menenggelamkan
peran kalangan Sunni seperti presiden, raja, dan
pemimpin negara Arab bahkan gerakan Hamas yang
melakukan perlawanan bersenjata terhadap Israel. Di balik antagonisme yang diperankan oleh Iran dan
Hizbullah, penulis ingin memberikan penjelasan sisi
lain dari gerakan Syi’ah ini. Apakah gerakan
Syi’ah ini benar-benar memperjuangkan kejayaan
Islam. Apakah tujuan gerakan ini sebenarnya.
Adakah keterkaitan antara Iran dan Hizbullah serta gerakan Syi’ah lainnya di Timur Tengah. Apa saja
yang telah dilakukan kedua gerakan ini dibalik
antagonismenya terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Jawaban dan penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan
diatas diharapkan menjadi penilaian yang objektif
terhadap “realitas permukaan” kedua gerakan Syiah ini.
Pembahasan
Selain kesamaan aliran pemikiran keagamaan, antara
Iran dan Hizbullah memiliki keterkaitan dalam hal
kerja sama dan aliansi strategis. Banyak kalangan
yang mengatakan bahwa Hizbullah mendapatkan bantuan persenjataan dan amunisi dari Iran. Salah
seorang pemimpin Hizbullah pernah ditanya
wartawan di tahun 1987 “Apakah kalian merupakan
bagian dari Iran?”. Pemimpin Hizbullah tersebut
menjawab : “Bahkan kami adalah Iran di Lebanon
dan Lebanon di Iran”. Selain itu secara simbolis seorang Hasan Nashrullah pun meletakkan foto Imam
Khomeni (pemimpin spritual Iran) dalam ruang
kerjanya di Lebanon. Ternyata aliansi gerakan Syi’ah tidak hanya Iran
dan Hizbullah. DR Muhammad Bassam Yusuf (penulis
buku Menyingkap Konspirasi Besar Zionis-Salibis dan
Neo Syiah Shafawis terhadap Ahlussunnah di
Semenanjung Arabia), mensinyalir adanya aliansi
strategis antara gerakan Syi’ah di Timur Tengah. Aliansi tersebut melibatkan Iran, Hizbullah, Suriah,
dan kelompok Syi’ah di Irak. Kasus kemarahan
pemimpin Suriah Basyar Al-Asad terhadap
pemerintah Lebanon diikuti oleh mundurnya 5 menteri
Syi’ah dari Hizbullah menunjukkan adanya
keterkaitan antara Hizbullah dan Suriah. DR Bassam Yusuf menulis adanya pertemuan di Damaskus tahun
2007 antara Iran dan Suriah untuk membentuk aliansi
strategis yang didalamnya turut pula bergabung
kelompok Hizbullah. Aliansi strategis gerakan Syi’ah
ini disebut dengan proyek kebangkitan Syi’ah
Shafawis. Aliansi yang ingin mengembalikan kejayaan dinasti Shafawiyah dan Fathimiyah dalam
menguasai kekuasaan di semenanjung Arab dan
Afrika. Berikut adalah beberapa fenomena Proyek
Shafawistik ini: 1. Adanya gerakan dan upaya pembersihan etnis dan
mazhab Sunni Arab di Irak seiring dengan upaya
pengisoliran terhadap mereka di wilayah Selatan Irak.
Ditambah lagi dengan seruan untuk membagi
kawasan Irak berdasarkan kelompok aliran, serta
mendorong pasukan Amerika Serikat untuk terus melakukan penangkapan, penawanan, pembunuhan,
penghancuran dan pembersihan terhadap kaum
Sunni, terhadap mesjid-mesjid, lembaga-lembaga, dan
juga gerakan-gerakan Sunni. 2. Keterlibatan kaum Persia Shafawis di Irak dengan
kerjasama yang sangat sempurna dengan pimpinan
tertinggi kaum Syiah di Irak, khususnya yang memiliki
ras Persia. Dan itu diwujudkan dalam bentuk
kerjasama intelejen, militer, ekonomi, politik dan
agama, dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat baik secara militer dan logistik. 3. Keterlibatan kaum Persia Shafawis di Suriah untuk
mengerahkan gerakan Syi’ahisasi terhadap Muslim
Sunni. Selain itu adanya pemberian kewarganegaraan
Suriah kepada para keturunan Persia dan warga
Syiah Irak oleh pemerintah Suriah. Dan jumlah mereka
hingga saat ini telah melebihi 1.000.000 jiwa. Mayoritasnya bermukim di Propinsi al-Sayyidah
Zainab dan sekitarnya di Damaskus. 4. Menonjolnya upaya-upaya pemalsuan yang sangat
vulgar dalam perhitungan demografis terhadap
rakyat Suriah. Dan bukti yang paling jelas atas itu
adalah studi-studi fiktif yang dipulikasikan oleh
Intelejen Suriah bahwa masyarakat Suriah adalah
masyarakat minoritas, dan prosentase Sunni dari keseluruhan jumlah masyarakat Suriah itu hanya
48%. Padahal, rakyat Suriah secara mayoritas mutlak
terdiri dari Sunni, dan ini adalah sebuah fakta yang
terlalu jelas di Suriah. 5. Kesepakatan dan konspirasi bersama dengan
kekuatan Amerika Serikat. Publikasi oleh pimpinan
spiritual tertinggi Syiah di Irak, berupa fatwa-fatwa
yang mengharamkan perlawanan terhadap Amerika
Serikat dan melabeli kaum Sunni mereka label teroris.
Dan semua itu dilakukan seiring dengan upaya-upaya dusta mereka yang seolah mendorong perlawanan
terhadap Amerika hingga negara Irak merdeka. 6. Semakin meningkatnya upaya-upaya penangkapan
yang dilakukan oleh Pemerintah Suriah terhadap
warga Arab Iran (al-Ahwaz) yang mencari
perlindungan ke Suriah sejak puluhan tahun yang lalu.
Tidak hanya itu, sebagian tokoh perlawanan al-
Ahwaz (Khalil ibn ‘Abd al-Rahman al-Tamimy dan Sa’id ‘Audah al-Saky) kemudian diserahkan
kepada pihak Intelejen Iran. Fenomena di atas menunjukkan sikap yang
bertentangan dengan “politik pencitraan” Iran dan
Hizbullah (bagian dari aliansi Syi’ah Shafawis) yang
dikenal vokal terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Keterlibatan Iran dan Hizbullah dalam aliansi Syiah
Shafawis merupakan sisi lain wajah Iran dan Hizbullah sebagai ikon perlawanan Dunia Islam.
Sebuah kenyataan yang jarang diekspos dan hanya
ada di “dunia balik layar”. Untuk menarik simpati dunia dan agar diterima
sebagai bagian dari Dunia Islam, gerakan Syiah
Shafawis ini menjadikan isu Palestina sebagai
komoditas politik. Isu palestina dimainkan agar ada
keterlibatan emosional seluruh bangsa Muslim di
dunia. Upaya untuk mempermainkan isu Palestina dilakukan dengan berbagai langkah berikut : 1. Lebih dari sekali, Presiden Iran meneriakkan
slogan-slogan kosongnya untuk seruan
menghapuskan Israel dari peta dunia 2. Mengumumkan aliansi Iran-Suriah dengan
beberapa organisasi Palestina yang memiliki citra
yang baik di mata dunia Arab dan Islam. Pemerintah
Iran juga memberikan kesan akan memberikan
bantuan finansial kepada pemerintahan Hamas.
Namun faktanya bantuan itu tak pernah ada. Bantuan Iran itu tidak lebih dari sekedar slogan dan janji
kosong, sebab kaum Shafawis-Persianis ini tak akan
dapat digerakkan kecuali dengan motif ras dan
kelompok, dan dalam hal ini organisasi Palestina
adalah kaum Sunni. 3. Penyelenggaraan berbagai pertemuan
mencurigakan antara pemerintah Suriah dengan
pemerintah Israel yang diikuti oleh pernyataan
bahwa pemerintah Suriah adalah pilihan mereka yang
harus didukung. Sementara pihak Suriah juga
menyatakan keinginannya untuk berdialog dengan Israel. Padahal pada saat yang sama, pihak Suriah
gencar melakukan pembersihan etnis terhadap
warga negaranya, melakukan konspirasi terhadap
upaya pengajaran Islam Sunni, sembari memberikan
dorongan bahkan bantuan moral dan materil
terhadap pengajaran Syiah-Shafawis 4. Keterlibatan Mossad yang cukup dalam di Irak
dengan dukungan pemerintah Irak buatan Amerika
Serikat dibantu oleh milisi Syiah Shafawiyah di Irak
untuk menangkap dan membunuh para ulama dan
tokoh Sunni yang berpengaruh di Irak. Tindakan terror
dilakukan berupa penculikan, penyiksaan hingga pembunuhan. Dan aliansi strategis ini bahkan telah
siap melakukan langkah yang sama di tiga wilayah:
Irak, Suriah dan Lebanon. Karena itu, tindakan apapun
yang dilakukan oleh salah satu dari aliansi ini,
sesungguhnya merupakan bagian dari global proyek
Shafawis ini di sepanjang kawasan yang memanjang dari Iran hingga Lebanon, termasuk didalamnya Irak
dan Suriah. Proyek Syi’ah Shafawis ini setidaknya dibangun di
atas 5 pijakan: 1. Bekerja sama dengan kekuatan Barat di bawah
komando Amerika Serikat untuk menguasai negeri-
negeri kaum Muslimin. Dan seluruh dunia mengetahui
dengan baik, bahwa Iran memiliki peran yang sangat
besar dalam bekerja sama bersama Amerika Serikat
untuk menjatuhkan Afghanistan dan Irak. Para petinggi Iran sendiri mengakui hal itu. Muhammad Ali
Abthahi, wakil presiden Iran yang lalu mengatakan:
“Seandainya bukan karena Iran, Amerika tidak
mungkin mampu menguasai Irak…Seandainya bukan
karena Iran, Amerika tidak mungkin mampu
menundukkan Afghanistan.” 2. Menyalakan api peperangan antar kelompok,
melakukan upaya pembersihan etnis dan kelompok,
bekerja keras untuk membagi-bagi wilayah. Mengusir
warga Irak yang sunni dari propinsi-propinsi dimana
mereka hidup bersama dengan kaum Sy’iah.
Ditambah dengan peran-peran merusak para pemimpin spritual Syi’ah di Irak untuk
menghancurkan kaum Sunni dan semua lembaga
yang mereka miliki. Al-Syirazy menyerukan dalam
khutbahnya untuk menghancurkan mesjid-mesjid
Sunni di Irak. Dan kaum Syi’ah benar-benar
menghancurkan ratusan mesjid Sunni, atau mengubahnya menjadi Husainiyat dan pusat-pusat
Syi’ah Shafawis. 3. Membunuh tokoh-tokoh potensial Sunni baik dari
kalangan ilmuwan, militer dan agama dan melakukan
upaya untuk meneror, mengusir atau membalas
dendam pada tokoh-tokoh Sunni. 4. Kamuflase demografis sebagaimana yang terjadi di
Suriah secara khusus. Dan juga seperti yang terjadi di
Lebanon, Yordania, dan Irak. 5. Menciptakan benturan-benturan fiktif dengan kaum
Zionis Israel. Padahal itu hanyalah sebuah pancingan
agar Israel mengamuk lalu menghancurkan negeri-
negeri kaum Muslimin. Berharap kondisi negeri
Muslim lainnya sama seperti Afghanistan dan Irak Ada 4 wilayah yang dipilih oleh kaum Syiah Shafawi
sebagai jejak awal merealisasikan tujuan dan
rencana mereka adalah sebagai berikut : 1. Wilayah Iran
Di kawasan ini operasi pembersihan terhadap kaum
Sunni sangat luas terjadi. Ini diikuti dengan
penghalalan harta, kehormatan dan bahkan mesjid-
mesjid mereka (perlu diingat, bahwa di seluruh
Taheran tidak ada satupun mesjid kaum Sunni) 2. Wilayah Irak
Kerja sama dilakukan dengan Amerika Serikat untuk
melakukan upaya-upaya seperti: penghancuran dan
membagi-bagi wilayah Irak, mempersenjatai milisi-
milisi Syiah untuk menyerang Sunni, pembersihan dan
pengusiran kaum Sunni, dan memalsukan prosentase jumlah penduduk Irak dengan menyebarkan studi-
studi palsu yang menyatakan kemayoritasan Syi’ah,
padahal sebelumnya kaum Sunni menempati posisi
52% penduduk Irak. 3. Wilayah Suriah
Pemerintah Suriah –yang merupakan sekutu strategis
Iran- telah melakukan berbagai upaya penangkapan
dan pembersihan yang sangat luas terhadap rakyat
Suriah sendiri. Mereka melakukan pembatasan
terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam, dan memberikan keleluasaan bagi lembaga-lembaga
Syi’ah padahal Syi’ah di Suriah sama sekali tidak
mempunyai wujud riil. Pemerintah Suriah juga
melindungi upaya misionarisme Syiah di tengah kaum
muslimin Suriah, memberikan kewarganegaraan
pada kaum Syiah yang datang dari Iran dan Irak, serta mempersempit ruang gerak orang-orang al-
Ahwaz yang mengungsi ke Damaskus. Suriah juga
menyiapkan dirinya sebagai pangkalan
penggempuran terhadap Lebanon dan Yordania, tentu
dengan menggunakan masalah Palestina sebagai
‘senjata’ untuk kepentingan aliansi ini 4. Wilayah Lebanon
Hizbullah dan Gerakan Amal –keduanya jelas gerakan
Syiah- memainkan peranan sebagai gerakan
perlawanan palsu. Melakukan perlawanan terhadap
Israel demi menjaga senjata tetap di tangan dan
memainkan lobi politik di Lebanon demi kepentingan aliansi Shafawis-Persianis. Kedua gerakan ini jelas-
jelas melancarkan misionarisme Syiah dan sengaja
memancing Israel untuk menghantam Lebanon kapan
saja aliansi Shafawistik itu membutuhkannya. Upaya
menghancurkan keutuhan Lebanon, terus dilakukan
untuk membentuk sebuah negara Syiah dalam Negara Lebanon Penutup
Penjelasan sistematis di atas sudah jelas
menunjukkan bagaimana usaha gerakan Syi’ah
Shafawis (pemerintah Iran, pemerintah Suriah,
kelompok Hizbullah dan kelompok Syiah Irak) untuk
menguasai jazirah Arab khususnya daerah yang membentang anatara Iran dan Palestina. Penjelasan
yang akan membantu untuk membaca realitas politik
Internasional yang dimainkan Iran dan kaum Syiah
shafawis lainnya. Perlawanan terhadap zionis Israel tentu akan
mendapatkan simpati dunia Islam. Namun gerakan
yang menjadikan upaya perlawanannya sebagai
bagian dari sebuah pewujudan tujuan yang tak jauh
berbahaya dari proyek Zionisme di Timur Tengah
adalah suatu tindakan di luar kemanusiaan. Pelaksana proyek hanya menjadikan masalah
Palestina sebagai barang dagangan sementara pada
saat yang sama gerakan Syiah membantai orang-
orang Palestina, merampas harta dan kehormatan
mereka. Tidak bisa diterima jika kaum Syiah Shafawi
melakukan pengacauan keamanan terhadap Suriah
dan Lebanon demi mewujudkan tujuan-tujuan
mereka. Tidak bisa diterima jika Lebanon dihancurkan
dan rakyatnya dibunuh hanya karena ulah provokatif
yang dilakukan oleh pendukung proyek Shafawis- Persianis yang bernama Hizbullah dan eksekusinya
dijalankan oleh Israel. Tidak bisa diterima jika operasi-
operasi militer gelap dijadikan sebagai ajang
penguluran waktu untuk membangun proyek Senjata
Nuklir Iran-Shafawis, yang kelak akan digunakan
untuk menghancurkan bangsa Arab dan kaum muslimin. Dalam lembaran sejarah tidak ditemukan sedikitpun
bahwa Iran pernah terlibat dalam peperangan
melawan Israel atau Amerika Serikat. Bahkan Iran
justru pernah mengimpor senjata dari Israel dan
Amerika saat berperang melawan Irak (Iran gate).
Iran juga yang membujuk dan mendukung keberlangsungan pendudukan Amerika di Irak Iran
sendiri yang ikut campur dan memudahkan
pemerintah Suriah untuk melenyapkan putra-putra
terbaiknya. Iran sendiri yang menggunakan Hizbullah
untuk memancing tindakan penghancuran Lebanon
oleh Israel. Iran sendiri yang merebut tiga pulau milik Emirat Arab. Dan Iran yang berusaha mengubah
gerakan perlawanan Palestina menjadi selembar
kertas yang kelak dengan mudah ia mainkan, meski
harus mengorbankan stabilitas keamanan seluruh
kawasan Arab dan Islam.
` Perlawanan terhadap Israel tidak sungguh-sungguh dilakukan dan buktinya dataran tinggi Golan masih
dalam keadaan tenang. Hizbullah menunutut adanya
pembebasan tawanan Lebanon oleh Israel namun
pada saat yang sama tidak menuntut warga lebanon
yang ditahan Pemerintah Suriah. Gerakan Syiah Shafawiyah hanya memainkan
kampanye politik yang tidak berdasarkan kenyataan.
Gerakan ini tidak jauh berbeda dengan gerakan Zionis.
Sama-sama ingin menguasai Timur Tengah
berdasarkan ideologi rasis. Pembantaian dan
tindakan di luar kemanusiaan dilakukan untuk mencapai tujuan. *Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah
Jakarta

Seranagan misionaris adalah serangan pembuka bagi imperialisme Eropa.

Assalamu alaikum,,,

Pengaruh Serangan Misionaris Serangan misionaris adalah serangan pembuka yang
meratakan jalan bagi imperialisme Eropa. Tujuannya
untuk menaklukkan Dunia Islam melalui penjajahan
politik setelah penjajahan pemikiran. Setelah kaum
Muslim mengemban ideologi Islam dan berhasil
menguasai Barat, dengan keberhasilan-nya membebaskan Istanbul dan negara-negara Balkan,
hingga mengantarkan Islam ke daratan Eropa, maka
Daulah Islam berbalik menjadi sasaran serangan
Barat. Barat mulai mengemban ideologinya ke Daulah
Islam dan menjadikannya panggung kebudayaan.
Mereka menebarkan ideologinya di Dunia Islam dengan berbagai macam sarana mengatasnamakan
ilmu, kemanusiaan, dan misionaris keagamaan. Barat
tidak cukup dengan membawa peradaban dan
pemahaman-pemahamannya, tetapi juga menikam
peradaban dan pemahaman Islam. Serangan Barat ini
membawa pengaruh, bahkan menguasai kelompok intelektual, para politisi, dan masyarakat Islam.
Pengaruh serangan misionaris itu di antaranya: Pertama, Tsaqâfah Barat membentuk kepribadian
umat Islam. Penjajah Barat menciptakan metode-
metode pengajaran dan tsaqâfah berlandaskan
falsafah, peradaban, dan pemahaman Barat. Proses
ini terus berlangsung hingga kepribadian Barat
dijadikan sebagai asas kehidupan Islam. Barat juga menjadikan sejarah, ruh kebangkitan, dan
lingkungannya sebagai sumber pokok nilai-nilai yang
menjejali akal kita. Tidak cukup dengan itu, Barat juga
memasukkan ruh ini ke dalam berbagai metode
secara rinci hingga tidak satu pun tsaqâfah Islam
mampu keluar dari landasan pemikiran umum yang menjadi falfasah dan peradabannya. Proses ini
merata ke seluruh aspek tsaqâfah Islam hingga
merasuk ke dalam pelajaran agama dan sejarah
Islam. Agama Islam dipelajari di sekolah-sekolah
Islam sebatas pada materi spiritual-etika, seperti
Barat memahami agamanya. Kehidupan Rasul diajarkan kepada anak-anak kita yang mata
rantainya terputus dari kenabian dengan risalahnya.
Bahkan sirah Nabi saw. diposisikan seperti
mempelajari kehidupan Napoleon atau Otto von
Bismark. Akibatnya, Islam tidak berpengaruh
terhadap pemikiran dan perasaan umat. Materi-materi ibadah dan akhlak yang sebenarnya
sudah tercakup dalam kurikulum agama diberikan
hanya dari sisi manfaat saja. Dengan demikian,
pengajaran agama Islam berjalan sesuai dengan
pemahaman-pemahaman Barat. Sejarah Islam
diajarkan hanya dengan menonjolkan sisi-sisi aibnya yang sengaja direkayasa. Akibatnya, mayoritas umat
mengingkari tsaqâfah Islam jika bertentangan dengan
tsaqâfah Barat. Mereka menjadi sekelompok orang
yang ber-tsaqâfah Barat dan menerapkan segala
kebijaksanaan searah dengan pandangan Barat.
Mereka menerima tsaqâfah Barat dengan ikhlas dan mengemban peradabannya. Sebaliknya, mereka
menjadi orang yang membenci Islam dan tsaqâfah
Islam sebagaimana kebencian Barat. Mereka
mengusung permusuhan keji terhadap Islam dan
tsaqâfahnya, sebagaimana yang dibawa Barat. Kedua, pembelaan Islam yang keliru. Penjajah Barat
yang menyerang Islam telah menggentarkan
sebagian kalangan intelektual Muslim. Mereka
mencoba menangkis tikaman ini dengan membela
diri; tanpa memperhatikan lagi apakah pembelaannya
benar ataukah salah, baik yang ditikam oleh pihak asing itu adalah Islam—yang dibanggakan—atau
yang didusta-kan. Mereka turut andil menafsirkan
Islam dalam keadaan yang membingungkan, atau
menakwil-kan nash-nashnya sesuai dengan
pemahaman-pemahaman Barat. Demikianlah
penolakan intelektual Muslim. Mereka menolak serangan-serangan Barat, yang justru lebih banyak
membantu serangan misionaris daripada
menolaknya. Bahkan mereka mengadopsi peradaban
Barat yang jelas-jelas bertentangan dengan
peradaban Islam dan menjadikannya sebagai bagian
dari pemahaman-pemahaman mereka. Ketiga, kehidupan umat Islam yang liberal. Adanya
para intelektual yang ber-tsaqâfah asing dan
buruknya pemahaman mereka terhadap tsaqâfah
Islam menyebabkan munculnya pemahaman-
pemahaman Barat tentang kehidupan dalam diri
kaum Muslim. Hal ini tampak dalam kehidupan mereka berupa praktik-praktik peradaban Barat yang
materialistik. Akibatnya, kehidupan masyarakat
tunduk pada peradaban dan pemahaman Barat. Semua itu disebabkan oleh peradaban Barat yang
dibangun di atas dasar pemisahan agama dari negara
(sekularisme). Kaum Muslim merasa sudah
melaksanakan kewajiban-kewajiban agama dengan
meyakini Allah dan menjaga shalat semata-mata.
Pada saat yang sama, pengaturan urusan dunia disuaikan dengan pandangan dan keinginan mereka
semata. Keempat, mencetak politisi oportunis. Serangan Barat
telah menjadikan para politisi Muslim senantiasa
meminta bantuan kafir penjajah. Pemikiran mereka
diracuni dengan ide-ide politik dan filsafat yang dapat
merusak pandangan mereka tentang kehidupan dan
jihad. Hal ini mampu merusak iklim Islam dan mengacaukan pemikiran-pemikiran yang gejalanya
merata dalam berbagai aspek kehidupan. Jihad yang merupakan ruh politik luar negeri Daulah
Islam diganti dengan perundingan. Kafir penjajah
dijadikan kiblat pandangan mereka dan tempat
meminta bantuan. Mereka pasrah dan menyerah
kepada kafir penjajah tanpa menyadari bahwa setiap
permintaan bantuan kepadanya ada dosa besar dan sama saja dengan bunuh diri. Para politisi menjadikan pusat perhatiannya pada
kemaslahatan individu semata. Kemaslahatan umat
sendiri terabaikan. Mereka kehilangan pusat
perhatian yang alami, yaitu mabda’ (ideologi)
mereka yang islami. Meski mereka telah berjuang ikhlas dan mencurahkan
segenap kemampuannya namun keberhasilan seperti
jauh panggan dari api. Semua gerakan politik menjadi
gerakan yang mandul. Kesadaran umat pun berubah
ke arah gerakan sporadis. Gerakannya tidak
beraturan, lama kelamaan padam, putus asa, dan akhirnya menyerah. Fakta ini muncul bersamaan di Negara Islam dengan
tumbuhnya gerakan-gerakan yang
mengatasnamakan kebangsaan, sosialisme,
nasionalisme, marxisme, spiritualisme, akhlak,
pendidikan, dan nasihat. Gerakan-gerakan ini
berkembang kacau dan menjadi problem baru dalam masyarakat, yang bertumpuk dengan problem-
problem lain. Hasilnya adalah kegagalan dan
kebingungan yang berputar-putar di seputar gerakan,
karena aktivitasnya berjalan sesuai dengan
peradaban Barat dan terpengaruh oleh serangan
misionaris. Lebih dari itu, gerakan semacam ini akan membendung gelora perasaan umat yang menyala-
nyala dan menyalurkannya dalam sesuatu aktivitas
yang tidak bermanfaat dan tidak mendatangkan
kebaikan, di samping akan lebih mengokohkan
kedudukan penjajah. [Gus Uwik]

Seranagan misionaris adalah serangan pembuka bagi imperialisme Eropa.

Assalamu alaikum,,,

Pengaruh Serangan Misionaris Serangan misionaris adalah serangan pembuka yang
meratakan jalan bagi imperialisme Eropa. Tujuannya
untuk menaklukkan Dunia Islam melalui penjajahan
politik setelah penjajahan pemikiran. Setelah kaum
Muslim mengemban ideologi Islam dan berhasil
menguasai Barat, dengan keberhasilan-nya membebaskan Istanbul dan negara-negara Balkan,
hingga mengantarkan Islam ke daratan Eropa, maka
Daulah Islam berbalik menjadi sasaran serangan
Barat. Barat mulai mengemban ideologinya ke Daulah
Islam dan menjadikannya panggung kebudayaan.
Mereka menebarkan ideologinya di Dunia Islam dengan berbagai macam sarana mengatasnamakan
ilmu, kemanusiaan, dan misionaris keagamaan. Barat
tidak cukup dengan membawa peradaban dan
pemahaman-pemahamannya, tetapi juga menikam
peradaban dan pemahaman Islam. Serangan Barat ini
membawa pengaruh, bahkan menguasai kelompok intelektual, para politisi, dan masyarakat Islam.
Pengaruh serangan misionaris itu di antaranya: Pertama, Tsaqâfah Barat membentuk kepribadian
umat Islam. Penjajah Barat menciptakan metode-
metode pengajaran dan tsaqâfah berlandaskan
falsafah, peradaban, dan pemahaman Barat. Proses
ini terus berlangsung hingga kepribadian Barat
dijadikan sebagai asas kehidupan Islam. Barat juga menjadikan sejarah, ruh kebangkitan, dan
lingkungannya sebagai sumber pokok nilai-nilai yang
menjejali akal kita. Tidak cukup dengan itu, Barat juga
memasukkan ruh ini ke dalam berbagai metode
secara rinci hingga tidak satu pun tsaqâfah Islam
mampu keluar dari landasan pemikiran umum yang menjadi falfasah dan peradabannya. Proses ini
merata ke seluruh aspek tsaqâfah Islam hingga
merasuk ke dalam pelajaran agama dan sejarah
Islam. Agama Islam dipelajari di sekolah-sekolah
Islam sebatas pada materi spiritual-etika, seperti
Barat memahami agamanya. Kehidupan Rasul diajarkan kepada anak-anak kita yang mata
rantainya terputus dari kenabian dengan risalahnya.
Bahkan sirah Nabi saw. diposisikan seperti
mempelajari kehidupan Napoleon atau Otto von
Bismark. Akibatnya, Islam tidak berpengaruh
terhadap pemikiran dan perasaan umat. Materi-materi ibadah dan akhlak yang sebenarnya
sudah tercakup dalam kurikulum agama diberikan
hanya dari sisi manfaat saja. Dengan demikian,
pengajaran agama Islam berjalan sesuai dengan
pemahaman-pemahaman Barat. Sejarah Islam
diajarkan hanya dengan menonjolkan sisi-sisi aibnya yang sengaja direkayasa. Akibatnya, mayoritas umat
mengingkari tsaqâfah Islam jika bertentangan dengan
tsaqâfah Barat. Mereka menjadi sekelompok orang
yang ber-tsaqâfah Barat dan menerapkan segala
kebijaksanaan searah dengan pandangan Barat.
Mereka menerima tsaqâfah Barat dengan ikhlas dan mengemban peradabannya. Sebaliknya, mereka
menjadi orang yang membenci Islam dan tsaqâfah
Islam sebagaimana kebencian Barat. Mereka
mengusung permusuhan keji terhadap Islam dan
tsaqâfahnya, sebagaimana yang dibawa Barat. Kedua, pembelaan Islam yang keliru. Penjajah Barat
yang menyerang Islam telah menggentarkan
sebagian kalangan intelektual Muslim. Mereka
mencoba menangkis tikaman ini dengan membela
diri; tanpa memperhatikan lagi apakah pembelaannya
benar ataukah salah, baik yang ditikam oleh pihak asing itu adalah Islam—yang dibanggakan—atau
yang didusta-kan. Mereka turut andil menafsirkan
Islam dalam keadaan yang membingungkan, atau
menakwil-kan nash-nashnya sesuai dengan
pemahaman-pemahaman Barat. Demikianlah
penolakan intelektual Muslim. Mereka menolak serangan-serangan Barat, yang justru lebih banyak
membantu serangan misionaris daripada
menolaknya. Bahkan mereka mengadopsi peradaban
Barat yang jelas-jelas bertentangan dengan
peradaban Islam dan menjadikannya sebagai bagian
dari pemahaman-pemahaman mereka. Ketiga, kehidupan umat Islam yang liberal. Adanya
para intelektual yang ber-tsaqâfah asing dan
buruknya pemahaman mereka terhadap tsaqâfah
Islam menyebabkan munculnya pemahaman-
pemahaman Barat tentang kehidupan dalam diri
kaum Muslim. Hal ini tampak dalam kehidupan mereka berupa praktik-praktik peradaban Barat yang
materialistik. Akibatnya, kehidupan masyarakat
tunduk pada peradaban dan pemahaman Barat. Semua itu disebabkan oleh peradaban Barat yang
dibangun di atas dasar pemisahan agama dari negara
(sekularisme). Kaum Muslim merasa sudah
melaksanakan kewajiban-kewajiban agama dengan
meyakini Allah dan menjaga shalat semata-mata.
Pada saat yang sama, pengaturan urusan dunia disuaikan dengan pandangan dan keinginan mereka
semata. Keempat, mencetak politisi oportunis. Serangan Barat
telah menjadikan para politisi Muslim senantiasa
meminta bantuan kafir penjajah. Pemikiran mereka
diracuni dengan ide-ide politik dan filsafat yang dapat
merusak pandangan mereka tentang kehidupan dan
jihad. Hal ini mampu merusak iklim Islam dan mengacaukan pemikiran-pemikiran yang gejalanya
merata dalam berbagai aspek kehidupan. Jihad yang merupakan ruh politik luar negeri Daulah
Islam diganti dengan perundingan. Kafir penjajah
dijadikan kiblat pandangan mereka dan tempat
meminta bantuan. Mereka pasrah dan menyerah
kepada kafir penjajah tanpa menyadari bahwa setiap
permintaan bantuan kepadanya ada dosa besar dan sama saja dengan bunuh diri. Para politisi menjadikan pusat perhatiannya pada
kemaslahatan individu semata. Kemaslahatan umat
sendiri terabaikan. Mereka kehilangan pusat
perhatian yang alami, yaitu mabda’ (ideologi)
mereka yang islami. Meski mereka telah berjuang ikhlas dan mencurahkan
segenap kemampuannya namun keberhasilan seperti
jauh panggan dari api. Semua gerakan politik menjadi
gerakan yang mandul. Kesadaran umat pun berubah
ke arah gerakan sporadis. Gerakannya tidak
beraturan, lama kelamaan padam, putus asa, dan akhirnya menyerah. Fakta ini muncul bersamaan di Negara Islam dengan
tumbuhnya gerakan-gerakan yang
mengatasnamakan kebangsaan, sosialisme,
nasionalisme, marxisme, spiritualisme, akhlak,
pendidikan, dan nasihat. Gerakan-gerakan ini
berkembang kacau dan menjadi problem baru dalam masyarakat, yang bertumpuk dengan problem-
problem lain. Hasilnya adalah kegagalan dan
kebingungan yang berputar-putar di seputar gerakan,
karena aktivitasnya berjalan sesuai dengan
peradaban Barat dan terpengaruh oleh serangan
misionaris. Lebih dari itu, gerakan semacam ini akan membendung gelora perasaan umat yang menyala-
nyala dan menyalurkannya dalam sesuatu aktivitas
yang tidak bermanfaat dan tidak mendatangkan
kebaikan, di samping akan lebih mengokohkan
kedudukan penjajah. [Gus Uwik]